Zen


Suatu hari, sahabatku mengaku padaku lewat sebuah pesan

zy, aku gay.”

Saat itu kami baru saja menginjakkan kaki di kelas satu sma, kami adalah sahabat sejak kelas 3 SD atau mungkin lebih lama dari itu aku tidak ingat, dan sejak itu kami selalu berada dalam kelas yang sama sampai kelas 3 smp. Sayang, kami memilih sma yang berbeda. Kami seringkali menghabiskan waktu bersama, Zen tipikal orang yang kreatif dan aku sendiri tipikal orang yang depresif. Di saat aku depresi karena yah kau tau rasanya jadi anak broken home dan yah tentu, aku kabur sampai aku sadar aku kabur kerumah sahabatku zen, yang hanya berbeda blok. Keluarga zen biasa saja seperti keluarga lainnya, tapi auranya beda seperti keluarga sesungguhnya. Zen memiliki hobi menggambar, kadang kami membuat komik kami sendiri tentang guru di sekolah kami, teman kami yang menjengkelkan atau isu-isu sosial. Intinya kalau kamu berteman dengan zen kamu tahu dia orang yang paling menyenangan.
Saat ia mengaku seperti itu, aku tidak tau harus berbuat apa.

apakah aku harus bilang itu salah?
atau
apakah aku harus bilang tidak apa-apa?

Dan aku diam.

Tapi sayang, diam tidak selamanya baik

Karena kesibukan di sma kami tidak saling mengirim kabar, bahkan pesan yang ia kirim saat itu tidak aku balas.

Sampai aku medengar kabar ada seorang remaja yang bunuh diri.

Aku sadar itu adalah zen

Aku terlambat. maafkan aku.

.

Hai zen, maafkan aku. aku tau aku terlambat. aku benar-benar minta maaf, tidak berada disampingmu saat kamu berada dikebingungan. aku.. ingin mengatakan tidak apa-apa menjadi berbeda. kamu tidak salah, dan tidak ada yang dapat disalahkan kecuali orang-orang yang selalu menyalahkan. aku sekali lagi minta maaf... aku terlambat...
.
aku tidak tau harus mengatakan apa lagi.. dan senyap menjadi teman bicaraku saat itu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aska

kata 1: berantakan

Ratna