Ratna

Ratna sangat mencintai suaminya, dewo. Bahkan jika kamu melihatnya kamu akan kesal ingin mengatakan bahwa apa yang ratna lakukan itu bukan mencintai tapi mengobsesi. 

Ini bukan cerita romansa dimana dua orang saling mencintai, tapi hanya ada satu orang yang mencintai dan satunya lagi tidak. Dewo, tidak (lagi) mencintai ratna. Dewo tipikal pria yang awut awutan, ia tidak peduli lagi kepada ratna dan melakukan semena-mena kepada ratna karna ia tau ratna akan melakuakan apa yang ia perintahkan. 

Aska sebagai teman sma nya dulu merasa prihatin dengan kelakuan ratna yang dirasa cukup tidak waras, tentu saja bagaimana kamu bisa bertahan jika suamimu saja memukulmu dan bertindak semena mena terhadapmu? Aska telah berulang kali menasehati ratna untuk berpikir lebih jernih lagi terhadap hubungan nya dengan suaminya. Tapi ratna tetap bertahan dengan alasan jika ia bersikap baik atau patuh hati suaminya akan luluh dan akan  berubah menjadi lebih baik lagi. Aska rasanya ingin membenturkan kepalanya saat itu ingin meneriakan bahwa cerita ratna bukan utopia novel.

Sikap dewo sudah diluar batas, ia suka main perempuan diluar, tidak mempedulikan ratna yang ada dirumah. Ratna diperintahkan untuk mencari uang karena hutang dewo yang menumpuk diakibatkan judi yang dewo kerjakan di tiap malamnya.

Saat dewo pulang, tepatnya jam 2 pagi tercium bau alkohol dari dewo. Ratna yang membukakan pintu melihat dewo kelimpungan bertanya 

"mas habis darimana?" 

"Bukan urusanmu" 

"tapi aku istrimu mas!

 "Diam aku bilang!" 

Dengan amarah dewo menghempaskan vas bunga yang berada di samping ke kepala ratna, sontak keluar darah dari kepala ratna. Tetapi itu tidak cukup, pengaruh alkohol menyebabkan dewo dengan membabi buta menghajar ratna, dan ratna hanya diam menangis. Hingga dewo mencekik ratna yang telah babak belur.

Tepat pukul 3 pagi, ratna tidak benapas.

Dewo masi belum sadar.

Ketika dewo menyuruh ratna untuk mengambil air, ratna tidak bergerak.

Dewo yang setengah sadar menyadari bahwa ratna sudah berhenti bernapas. Gemetaran dewo keluar dari pintu dan pergi entah kemana.

Pukul 11 pagi, rumah dengan nomor 34 di beri garis polisi dan banyak warga yang datang penasaran. Diseberang sana, aska menatap prihatin. Ia kehilangan sahabatnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aska

kata 1: berantakan